Karam Dalam Badai



Buku novel | buku novel karya Yanis Alfata berjudul Karam Dalam Badai merupakan novel yang menarik. Novel ini ia selesaikan dengan rasa syukur, karena akhirnya dapat menyelesaikan tulisan ini selama dua tahun. Waktu yang cukup lama dan penuh perjuangan.
Pengantar penulis
Walau sudah berusaha dengan segenap kemampuan yang ada, tentu tulisan ini masih banyak kekurangannya. Oleh karena itu, kritik yang konstrukstif sangat penulis harapkan. Selain itu, pada kesempatan ini penulis sampaikan ucapan terima kasih yang tulus kepada semua pihak yang telah membantu dan memotivasi penulis dalam menyelesaikan naskah novel ini. Terutama orang tua, saudara, dan sahabat. Semoga amal baik yang diberikan mendapat balasan dari Allah Swt.
Novel ini jauh dari sempurna, maka dari itu penulis sangat berlapang dada untuk menerima kritik dan saran terhadap penyempurnaan novel ini, sehingga tulisan ini dapat bermanfaat bagi siapa saja yang membacanya. Juga semoga novel ini dapat memberi sumbangsih bagi kemajuan dunia literasi.
Setangkup Isi
Buku novel ini menulis tentang sebuah pertemuan tak terduga. Novel ini disampaikan dengan alur yang menarik, tidak hanya itu penulis juga menyampaikan tentang kedekatan dengan Tuhannya. Bahwa tuhan telah mentakdirkan setiap manusia jodohnya masing-masing.
Novel ini semakin terasa ketika masuk ke halaman 22. Di bab ini mengulas terkait dengan äku terbuai dalam noda”. Dilanjutkan dengan konflik semakin memanas di bab selanjutnya. Dengan sub bab “Jka tidak mampu, mengapa kau mengawiniku’’.
Selanjutnya mengulas tentang cidera karena cinta. Konflik cerita disampaikan dengan apik dan menarik. Novel ini mengantarkan pada masalah dan mengajak pembaca mengenal tuhan lewat masalah yang di lewatinya.
Setangkup Isi yang Terpenggal
Malam itu, gerimis baru saja membasahi tanah, angin menerobos masuk lewat celah dinding papan rumah yang telah usang. Setelah menegakkan salat isya, dengan mengenakan celana pendek dan kaos warna hitam. Dia duduk di pojok ruangan di bawah siraman lampu yang agak terang. Berhadapan dengan sebuah komputer sembari jemarinya menekan tombol abjad pada benda itu. Hal itu selalu dilakukannya manakala tugas-tugas di sekolah masih tersisa dan tak sempat dikerjakannya. Ya, begitulah tanggung jawab seorang guru. Pekerjaan ini ditekuninya hampir lima tahun, setelah lulus kuliah sampai sekarang sudah beristri.
Di tengah-tengah upaya menyelesaikan nilai siswa. Istrinya, Ira yang sedari tadi mematung di depan pintu kamar pun menghampirinya. Dani hanya menatapnya sekilas, lalu dia melanjutkan pekerjaannya. Dani berusaha untuk tidak memedulikan, hal itu untuk menghindari percakapan-percakapan yang tidak penting sehingga mengganggu pekerjaannya.
“Bang, bisakah kamu mengantarku ke rumah tetangga sebentar?” tanya Ira membuka percakapan.
Pertanyaan dari Ira sebenarnya sedikit mengganggu pekerjaan Dani yang begitu fokusnya pada benda itu. Dani berusaha tidak menjawab agar tidak berlanjut lagi.
“Bisakah kamu mengantarku ke rumah tetangga?” ulangnya lagi.
Meskipun sebelumnya sudah pernah diingatkan agar tidak mengganggunya kala ia bekerja, baik itu menanyakan tentang ini itu atau meminta mengantarnya ke rumah tetangga. Ira tetap saja mengingkarinya sehingga terjadi perang mulut yang bermuara pada pada percekcokan besar.
Malam-malam sebelumnya, perang mulut sering terjadi, jika Dani berkata satu kata, Ira malah membalas sepuluh kata. Begitulah yang terjadi hingga Dani tidak sanggup menahan amarahnya. Pernah suatu malam sebelumnya ketika mereka bertengkar, Dani yang sudah dibakar api amarahnya ingin sekali mencekik leher Ira, istrinya yang tidak tahu diri itu. Untung hal semacam itu tidak dilakukannya lantaran Dani belum hilang akal sehatnya.
“Maaf! Aku tidak bisa, aku sedang sibuk mengerjakan tugas ini. Setelah ini masih ada lagi yang harus aku kerjakan. Jadi tolong jangan ganggu aku untuk saat ini,” jawab Dani mulai kesal tetapi tidak menampakkan kekesalan itu.
“Kamu, Bang, selalu begitu. Sebentar saja, kan, bisa. Setelah itu kamu bisa melanjutkannya lagi,” balas Ira dengan nada memaksa.
“Aku tidak bisa, Ira! Apakah kamu tidak melihat aku sedang apa? Lagian ngapain, sih, kamu malam-malam ke rumah orang. Lebih baik kamu kerjakan apa yang ada di rumah ini. Bukankah masih banyak pekerjaan yang belum kamu selesaikan?”
“Aku mau nonton!” jawab Ira dengan nada tinggi. Dia pun tidak ingin kalah dengan suaminya. “Makanya kamu beli TV, perabotan, dan semua perangkat rumah. Supaya aku tidak pergi ke rumah tetangga.”
“Sabar, nanti akan ku usahakan,” ucap Dani dengan nada lesu.
“Sampai kapan, Bang, aku sudah capek menunggu. Sudah empat bulan pernikahan kita, belum juga kamu memberikan apa yang aku minta. Seharusnya jadi lelaki itu tanggung jawab, mapan, sedangkan kamu, Bang, hanya mementingkan dirimu sendiri tanpa memedulikan istrimu”.
Perkataan Ira yang baru saja diucapkan sontak membuat Dani terhenti dari pekerjaannya, dan dia pun mulai naik pitam. Inilah awal bencana yang sering terjadi dalam rumah tangga yang menimbulkan perang mulut seperti sebelumnya. Semua berawal dari lidah istrinya yang tajam dengan perkataan yang ketus dan tanpa sopan santun terhadap suaminya.
Dani yang dikenal lembut senantiasa mempersiapkan kesabarannya di tengah-tengah sepenuhnya harus fokus pada pekerjaan yang menantinya. Tetapi selalu diusik oleh orang lain, tak lain adalah istrinya sendiri. Dani tak pernah melarang Ira untuk menonton ke rumah tetangga lantaran di rumahnya tidak ada televisi. Tapi, kenapa harus melibatkan dia, ketika suaminya menolak, maka Ira mencari kesalahan sehingga tampak bahwa Dani tak mampu memenuhi keinginannya.
“Jangan lagi kamu memancing amarahku, Ira!”
“Aku tidak memancing amarahmu, aku berkata benar,” Ucap Ira merasa benar.
“Jangan hanya gara-gara masalah sepele kamu mengajakku berelahi.”
“Aku hanya minta pengertianmu saja, apakah itu salah?” Ira menambahkan.
“Apa selama ini aku tidak memenuhi kewajibanku sebagai suami? Aku menafkahimu lahir dan batin. Semua gajiku yang kuterima setiap bulan selalu kuserahkan ke tanganmu. Apa itu tidak cukup?” ucap Dani mulai kesal lagi.
“Iya, kamu serahkan ke aku. Tapi, selalu tidak cukup,” kata Ira tidak mau mengalah. “Semua lelaki sama, hanya mementingkan diri sendiri.”
“Ira, Cukup…cukup!” bentak Dani dengan nada tinggi seperti tak sanggup menahan amarahnya. Lalu berdiri tegak, lantas menatap Ira dengan roman muka merah padam. Ira seperti terkejut dan merasa takut, beberapa saat mereka terdiam membisu. Selanjutnya Ira keluar rumah sambil menggerutu dengan omelan-omelan pedas kepada suaminya. Dani berusaha tidak menghiraukan omelan istrinya agar tidak memperpanjang perang mulut dengan tujuan menyudahinya. “Dasar perempuan tidak tahu diri!” gumamnya penuh amarah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wujud Tanpa Suara