Cinta Menuntunku Melepasmu



Buku novel | Buku novel karya Hidayatun Mahmudah menceritakan sebuah cinta yang memberikan banyak pelajaran. Novel ini di beri judul dengan “cinta menuntunku melepasmu”. Buku yang diterbitkan oleh penerbit Deepublish terbit berkat banyak pihak. Hidayatun Mahmudah selesai karena proses panjang.
Pengantar Penulis
Pada akhirnya berhasil mengalahkan minder saya dengan menyentuh halus tuts keypad di notebook menghasilkan novel ini. Novel ini merupakan revisi dari cetakan pertama hasil dari belajar kursus singkat dengan Mas Rifa’i.
Terima kasih dengan peluk hangat dalam balutan doa yang tak terungkap. Teristimewa untuk yang selalu menyanyikan lagu hati mengokohkan kami dalam Cinta-Nya, telah menghadiahi “Surga sebelum Surga”. Kepada Redaksi Deepublish bersama good team worknya yang telah menerima novel saya. Semoga selalu sehat dan dalam lindungan-Nya untuk selalu ada dan memberikan kesempatan bagi para penulis menyumbangkan buah pikiran serta ukiran huruf-hurufnya.
Finally, terimakasih dan senyum serta doa saya untuk panjenengan yang saat ini sedang membaca novel saya, semoga bermanfaat dan barakah bagi kita semua. Kritik dan saran membangun sangat saya nanti untuk proses memperbaiki kualitas tulisan saya.
Setangkup Isi
Bukunovel karya Hidayatun Mahmudah dalam ceritannya membagi ke dalam beberapa bab. Misalnya, bab pertama menceritakan tentang keluarga dan pertemanan. Tidak hanya itu, untuk menghidupkan suasana, di bab selanjutnya penulis menceritakan tentang taáruf arumdani dan bagas. Di bab ini, penulis menceritakan menggunakan bahasa yang lebih menarik.
Menceritakan tentang proses ta’aruf, di bab selanjutnya menceritakan hari-hari taáruf arumdani dan bagas. Kemudian di lanjut ke tahap selanjutnya, menceritakan tentang bagas dan masa lalunya yang disembunyikan. Novel ini tidak hanya menceritakan tentang tokoh pertama, tetapi juga menceritakan tentang teman-tema bagas.
Skema cerita dilanjutkan dengan pertemuan dengan anak-anak bagus. Dilanjutnya dengan cerita arumdani dikhitbah bagas. Cerita semakin seru dan memanas, namun juga so sweet karena menceritakan arumdani dan bagas. Kemudian dilanjutkan dengan bab mengulas kehidupan baru arumdani dan bagas.
Konflik masalah semakin terasa ketika si bagas terbongkar rahasia masa lalunya. Kemudian dilanjutkan dengan lambada lewat mulai bergolak. Mendekati endingnya, novel ini memaparkan launya kuncup cinta sebelum bermekaran. Sampai endingnya terjadinya perpisahan.
Cuplikan Cerita
 “Berrr …”, dingin sekali udara pagi ini, sampai ke dalam-dalam tulang, membekukan, batinku saat terbangun dari tidur, jarum jam menunjukkan pukul 03:45. Bulan Agustus ini masih termasuk musim kemarau di Kabupaten Arga Makmur, identik dengan udara dingin di malam hingga pagi hari, bahkan tak jarang siang pun masih terasa dingin.
Aku tetap beranjak dari tempat tidur, melangkahkan kaki keluar kamar untuk segera mengambil air wudu, kemudian menyegerakan tahajudku. Semakin dingin, merinding kulit ini dibasuh dengan air wudu, kemudian segera kulangkahkan kaki menuju mushala yang terletak di sisi pojok timur bagian belakang rumah yang berdinding hijau ini.
Usai bermunajat pada Sang Maha Cinta, aku segera menuju dapur menyalakan perapian, memulai aktivitas keseharian, merebus air untuk persediaan masak-memasak juga untuk mandi Abran, anak laki-lakiku yang telah berusia delapan tahun, yang kini duduk di kelas tiga Sekolah Dasar Swasta milik Yayasan Islam di kecamatan Aranmulya, di mana kami tinggal. Hampir setiap pagi Abran mandi menggunakan air hangat karena sebelum pukul enam dia harus sudah siap dijemput mobil jemputan sekolahnya. Sementara Bu Min, ibuku, menyelesaikan tadarusnya yang sebentar lagi akan mengikuti jamaah subuh di masjid dekat rumah.
Azan subuh terdengar dari masjid al Iman, aku membangunkan Abran dan melaksanakan subuh, yang beberapa saat kemudian disusul Abran juga menunaikan dua rakaatnya. Sembari menunggu Abran selesai mandi ku mempersiapkan sarapan. Di rumah tinggal bertiga dengan ibu dan Abran saja, ayahku sudah meninggal karena kecelakaan lalu lintas ketika akan pulang usai mengajar, tatkala aku baru saja lulus dari sekolah kejuruan negeri yang terkenal di Kabupaten Arga Makmur.
Qadarullah, kemudian aku dapat melanjutkan belajar di sebuah perguruan tinggi Islam yang ternama di ibukota provinsi Sekarwangi, di Fakultas Tarbiyah, dan berhasil menyelesaikan studi di tahun 2003. Kemudian mencoba memasukkan surat lamaran sebagai guru tidak tetap ke berbagai sekolah baik di kabupatenku sendiri maupun ke luar kota bahkan lintas provinsi dan satu lamaran pekerjaan di Bank Muamalat milik perguruan tinggi Islam swasta Sekarwangi yang terkenal pula di kota Sekarwangi, namun tidak ada satu pun yang membuahkan hasil, justru lamaran di Bank Muamalat itu yang mendapat respon dan kemudian interview, namun juga berhenti di wawancara saja. Untuk mencoba kembali ke luar kota berat bagiku, karena tidak mungkin meninggalkan ibu seorang diri di rumah, rizki itu datangnya dari Allah, hal itu sangat aku yakini sembari terus menerus berikhtiyar yang terbaik untuk diri dan masa depan, juga untuk Ibuku. Tanpa disangka-sangka, di saat kebingunganku mau mencoba ke mana lagi memasukkan lamaran, datanglah bu Hari, tetangga yang mengajar di sekolah dasar negeri di Arga Makmur, memberitahukan berita bahagia itu.
“Mbak Arum, teman-teman tadi bermusyawarah, karena di sekolah kami masih membutuhkan tambahan tenaga guru, maka kami tadi sepakat untuk memanggilmu, untuk ikut berjuang bersama mendidik anak-anak.”
Alhamdulillah Ya Allah, maturnuwun sanget, Bu informasinya.”
“Tapi perlu diketahui, sekolah kami belum mampu memberikan honor yang tinggi, namun insyaallah, sekedar untuk membeli sabun ada Mbak,” imbuh Bu Hari.
Gih, Bu tidak mengapa, yang penting saya diberikan kesempatan untuk belajar dan mendapatkan pengalaman bekerja itu sudah maturnuwun, senang sekali,” jawabku kemudian.
Dan pada akhirnya di tahun 2004 ada formasi Calon Pegawai Negeri Sipil di Departemen Agama Arga Makmur sebanyak sebelas guru pendidikan agama Islam di sekolah dasar. Aku mencoba ikut seleksi formasi tersebut, ternyata yang mendaftar membludak, ratusan sepertinya, karena ketika test menggunakan beberapa ruangan yang ada di Madrasah Tsanawiyah dan ‘Aliyah di Arga Makmur untuk formasi Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah, dalam hati aku berbisik, ”MasyaAllah, segini banyaknya yang mendaftar, Ya Allah jika ini adalah yang terbaik untukku permudahlah dan berikan hamba ketenangan, aamiyn.”
Di penghujung tahun yang sama diumumkan hasil seleksi CPNS tersebut, namun di hari diumumkan itu aku tenang-tenang saja, tidak sibuk mencari koran yang memuat pengumuman itu, justru sibuk dengan pekerjaan rumah. Baru setelah masuk kamar, aku melihat hp yang baru di charge, terdapat beberapa sms masuk dan beberapa panggilan tak terjawab.
“Siapa ya?” Tanyaku dalam hati sambil membuka sms dan panggilan tak terjawab,
“Mbak Win dan Mas Neni?” masih dengan rasa penasaran yang besar, kubuka beberapa sms yang masuk itu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wujud Tanpa Suara

Karam Dalam Badai