Dengarkanlah
Buku novel karya Muhamad Andika S.
Saputra berjudul dengarkanlah. Buku yang disajikan dengan menarik. Berikut
adalah ulasan isi fiksi yang dapat kamu lakukan.
Hari yang cerah, jarum
jam menunjukkan pukul enam pagi, suasana udara yang
masih dingin nan sejuk begitu terasa. Di sebuah ruang makan keluarga, berdiri
seorang wanita paruh baya sedang menyiapkan makanan untuk sarapan pagi anggota
keluarganya, sementara asisten rumah tangga mereka sedang memasak di dapur.
“Selamat pagi, Ibu! Hari
ini cuaca tampak cerah sekali, ya!” Ian datang dari arah kamarnya dengan
berpakaian rapi.
“Ya, selamat pagi, Ian!
Ayo sini sarapan bersama,” sapa Rita Ningsih, Ibunda Ian. Wanita berusia 44
tahun ini masih terlihat muda dan cantik.
Ian duduk berseberangan
dengan Ibunya, “Emm... ngomong-ngomong, Ayah dimana, Bu?”
“Mungkin sebentar lagi
Ayahmu menyusul. Oh, iya, ini hari pertamamu mulai kuliah, bukan! Bagaimana
perasaanmu?”
“Emm... biasa saja, Bu!
Ya, sebenarnya aku ingin fokus bekerja saja, tapi kalian malah menyuruhku
sambil kuliah juga. Sepertinya lumayan agak merepotkan.”
Ibunya tersenyum, “Kami
hanya ingin kamu bisa belajar tentang banyak hal, selain itu pengalaman saat
kuliah akan sangat membantu dalam pekerjaanmu. Ambil sisi positifnya saja.”
“Yahh... Ibu, jaman
sekarang ini gelar sarjana hanya menjadi akal-akalan orang saja untuk naik
jabatan. Benar, bukan?”
Ibunya tersenyum lagi,
“Ibu mengerti perasaanmu, tidak semua orang seperti yang kamu pikirkan.
Sekarang usiamu sudah 19 tahun, Nak! Jadi, manfaatkan masa muda ini dengan baik
untuk belajar. Kamu harus mulai belajar dewasa dan berhenti bermalas-malasan,
lalu kebiasaan menunda pekerjaanmu itu harus secepatnya diubah. Di
luar sana banyak orang yang ingin kuliah namun tidak bisa karena terkendala
beberapa hal terutama masalah dana. Kamu harus selalu bersyukur karena bisa
kuliah sambil bekerja. Kuliah sambil bekerja itu tidak mudah dan tidak semua
orang mampu menjalaninya. Jadi manfaatkan kesempatan ini dengan baik. Oke…!”
Ian menatap Ibunya dengan
senyuman, dia kagum dengan Ibunya yang selalu berbicara lemah lembut, “Baiklah,
karena Ibu sudah berpesan seperti itu, aku akan berusaha mengubah semua
kebiasaan burukku itu, Bu!”
Ibunya tersenyum.
Tidak lama kemudian Pak
Wijaya Koesuma datang untuk ikut sarapan bersama. Usia 46 tahun bukan masalah
baginya, dia tetap tampil dengan semangat muda, berpakaian rapi memakai seragam
kantor, meski ada sedikit uban di kepalanya.
“Selamat pagi, Ayah!” Ian
menyapa Ayahnya dengan senyuman.
“Ya, selamat pagi, Ian!”
Pak Wijaya tersenyum lalu duduk di samping istrinya, “Ian, hari ini kamu sudah
mulai masuk kuliah, bukan?”
“Iya, ada apa, Ayah?” Ian
bertanya penasaran.
“Tidak apa-apa, kalau
kamu nanti pulang kuliahnya sore atau ada tugas yang harus segera diselesaikan
jangan lupa kabari Pak Johan.”
“Oh, baik, Ayah!”
“Tapi, jangan jadikan
semua itu sebagai alasan untuk tidak masuk kerja, ya! Walau kamu adalah anak
ayah, tapi kamu harus tetap menghormati Pak Johan sebagai manajermu. Paham!”
“Ya, Ayah! Karena nanti
aku yang akan menjadi penerus usaha keluarga ini, jadi aku akan berusaha sebaik
mungkin dan tidak ingin mengecewakan
Ayah dan Ibu!”
Ayahnya tersenyum, “Ayah
dan Ibu bangga padamu, penuh semangat. Tapi, jangan hanya diucapan saja,
buktikan kalau kamu benar-benar bisa!”
“Baik, Ayah!” Ian tersenyum.
Suasana di ruang makan
terasa menyenangkan, meski mereka berbicara serius namun semua percakapan itu
mengalir seperti air. Tidak ada perdebatan maupun pertengkaran semua berjalan harmonis.
“Oh, ya, kamu harus ingat satu hal!”
Ian penasaran, “Apa, Ayah?”
“Jika ada kegiatan
demonstrasi, kamu tidak perlu ikut!”
“Memangnya kenapa, Ayah?”
“Ayah hanya tidak ingin
kamu membuang dan menyia-nyiakan waktu untuk masalah seperti itu, masih banyak
kegiatan yang lebih positif daripada harus ikut bersorak-sorak tanpa ada orang
yang mendengarkan, lalu berujung anarkis.”
“Bukankah orang demo itu
bertujuan untuk menyampaikan aspirasinya, Yah?”
“Kamu pernah berbicara
langsung dengan customer kita,
bukan!” Ayahnya menyela ucapan.
“Emm, ya... Ayah.”
“Memang ada banyak cara untuk
menyampaikan sebuah aspirasi, tapi tidak semua aspirasi itu harus disampaikan
dengan demo, apalagi disertai aksi anarkisme dan
pengerusakan, berpikirlah menggunakan ini....” Ayahnya
menunjuk kepala.
“Tapi Ayah, orang-orang berdemo itu...!”
“Kalau begitu, tugasmu
adalah mencari tahu bagaimana cara yang baik agar seorang customer bisa menyampaikan aspiranya pada produk yang tidak sesuai
dengan harapannya, dan nanti kamu juga harus menjelaskan pada ayah tentang apa
itu berdemo, kenapa berdemo sering disertai anarkisme dan pengerusakan.”
Ian semakin tidak
mengerti, “Aku jadi bingung dengan maksud Ayah.”
Ibunya tersenyum,
“Pahamilah terlebih dahulu tugas yang diberikan Ayahmu, nanti kamu akan
mengerti semuanya.”
Ian hanya mengangguk
sambil menggaruk kepalanya karena bingung. Hmmm... malah mendapat tugas yang
merepotkan. Harusnya aku hanya mendengarkan saja, tapi
kenapa ayah begitu peduli dengan para pendemo, gumamnya dalam hati.
Sarapan pagi usai, Ian
dan kedua orang tuanya meninggalkan meja makan lalu menuju halaman rumah.
“Ian, kami berangkat dulu, ya!”
“Ya, Ayah dan Ibu
hati-hati di jalan!” Ian mencium tangan kedua orang tuanya.
“Pesan Ayah, belajar dan
bekerjalah dengan semangat!” sambil mengusap kepala Ian.
Ibunya tersenyum dan
turut mengusap kepala Ian, “Jangan lupa janjimu pada Ibu, untuk merubah
kebiasaan burukmu itu, ya!”
Ian mengangguk dan
tersenyum, “Terima kasih, Ayah, Ibu!”
Suasana rumah menjadi
sepi setelah kedua orang tua Ian berangkat kerja. Dia sudah terbiasa dengan hal
demikian. Meski kedua orang tuanya sibuk, tetapi perhatian dari keduanya tetap
ada.
http://penerbitbukudeepublish.com/bidang-ilmu/novel/ bisa kamu dapatkan di
marketplace seperti tokopedia, shopie dan di web penerbit deepublish.
Komentar
Posting Komentar