Kertas Kumal Di Bawah Meja



Buku novel karya Surya Darma yang berjudul kertas kumal di bawah meja merupakan karya kumpulan cerpen. Cerpen ini disajikan dengan bahasa yang enak dibaca. Antalogi cerpen ini unik karena menghadirkan banyak tokoh dan berbagai karakter unik manusia dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.
Latar Belakang
Kisah dalam Antologi cerpen ini pun dituturkan dengan bahasa yang ringan, mengalir, dan enak dibaca. Antologi cerpen ini ditulis oleh Surya Darma yaitu seorang guru SMAN 4 Berau yang mengampu mata pelajaran Bahasa Inggris dan ESP. Dalam kesibukannya, penulis menyempatkan diri untuk menulis naskah drama, cerpen, puisi, dan pantun.
Antologi cerpen “Kertas Kumal di Bawah Meja” adalah Antologi cerpen fiksi yang bercerita tentang Ibay yang mulai menyusun dan menyatukan potongan kertas kumal di bawah meja. Belum selesai ia mendapatkan jawabannya, tiba-tiba seseorang mati tertembak di rumahnya.
Bagaimana kisah Ibay yang mencoba menyusun potongan kertas kumal? Apakah Ibay mendapatkan jawaban atas semua pertanyaannya? Mari kita ikuti lika-liku kisahnya dari awal sampai akhir cerita. Semoga Antologi cerpen ini bermanfaat bagi siapa saja yang membacanya.
Buku ini mengulas beberapa bab yang menceritakan tentang kertas kumal di bawah meja, cintaku buat mama dan Inda biyai jadi seleb. Di bab selanjutna juga terdapat cerpen tentang imam masa depan, balada ayam penyet dan nenekku peninggalan belanda.
Pembaca tidak hanya menceritakan cerpen itu saja. Masih ada banyak cerpen lain yang lebih menarik. Misalnya, ada tukang servis jam, gagal di rantau dan cerita nikah gratis. Bahkan ada juga cerpen tentang bukan pandawa lima sampai cerpen cinta romantis seperi kado untuk maharku dan awas tegangan tinggi.
Cuplikkan Cerpen
Satu gumpalan besar dan empat puluh tiga potongan kertas bertulisan tangan. Itu saja yang dikerjakan Ibay. Bahkan, dua puluh tiga dari jumlah potongan itu terdiri dari potongan yang dengan sengaja; digunting-gunting, disobek-sobek, bahkan digigit-gigit. Proses penyusunan potongan kertas itu tidak jarang membuatnya meneteskan air mata, hingga puluhan bahkan mungkin ratusan helai tisu berhampuran bersama potongan kertas yang disusunnya.
Barangkali, seandainya orang lain apalagi anak berusia tujuh tahun itu merasakan hal yang sama jika mereka ada di posisinya. Tiga jam sudah Ibay menyiksa dirinya seperti itu. Satu gumpalan besar kertas dan empat puluh tiga potongan kertas bertulisan tangan. Lebih kacau lagi, sore nanti itu adalah kedatangan Ayah Tirinya.
Akan hadirnya sosok lelaki itu di rumahnya, sungguh tidak masuk dalam pikirannya. Ketika anak berusia tujuh tahun empat bulan itu bertanya pada ibunya, jawabannya singkat, “Itu Ayah barumu.”
Ibay tentu saja kaget bukan kepalang. Sosok ayah yang dinantikan selama ini akhirnya tiba juga. Saking girangnya, Ibay berlari berkeliling ruang tamunya yang berukuran dua kali tiga meter itu, laksana kereta odong-odong Mang Sastro, seraya berteriak, “Ayah, Ayah, Ayah, kupunya Ayah! Asyik, asyik, asyik!”
Selama ini kata Ayah hanyalah rentetan sepenggal lirik di berayun-ayun kepalanya. Ibay tak pernah tahu siapa ayahnya selama ini. Setiap kali ia bertanya, ibunya hanya diam dan mengalihkan pembicaraan. Sesekali ibunya mengatakan kalau ayahnya sudah mati akibat tabrak lari. Sehingga seringkali pula ibunya melarang Ibay main di jalanan, nanti mati seperti ayahnya.
Sementara, tetangganya lain lagi mulutnya, “Iin, jangan main sama anak haram itu!”, begitu kata mama Iin ketika Ibay teriak-teriak memanggil mengajak bermain di lapangan.
Mendengar kata anak haram itu, girangnya bukan kepalang. Ternyata aku anaknya Haram. Aku punya ayah juga, yang namanya Haram. Itulah pikiran Ibay saat ia mendengar anak haram itu. Seringkali Ibay iri dengan teman-temanya yang punya ayah; ada yang mengantar jemput sekolah, ada yang bisa bantu mengerjakan pe-ernya, atau bisa diajak rekreasi ke pantai Ulingan, Labuan Cermin, Pulau Derawan, atau Pulau Maratua.
“Aduh!” kepala Ibay terantuk di sisi dalam bawah meja itu. Lamunannya terhenti seketika dan membuyarkan khayalan-khayalan selama berjam-jam itu. Masih ada beberapa potongan kertas lagi yang coba Ibay susun untuk mendapatkan semua isi tulisan tangan itu. Sementara di sisi lain satu gumpalan besar kertas belum terusik sedikitpun.
Sudah tiga jam Ibay menyusun dan menyatukan potongan kertas kumal itu, tapi belum dapat menjawab apa yang ia cari. Baru beberapa yang masih mengganjal di pikirannya.
Sudah hampir satu bulan kami di SMA, kami mengenal satu sama lain dan membentuk kelompok bermain layaknya anak playgroup. Teman kami yang terkenal dengan kulit sawo matang itu pun membuka percakapan. Dia mulai menceritakan pengalamannya sewaktu sekolah menengah terdahulu, ia bercerita tentang masanya yang selalu tak mendapatkan pasangan yang ia impikan, mulailah ia ingin mengetahui orang yang kami sukai sekarang? Ketika tiba giliranku, aku tak tahu harus menjawab apa, karena aku tak mengerti apa sebenarnya rasa suka itu, apakah rasa ingin memiliki seseorang, apakah rasa ingin menjadi sahabatnya?….. itu lembaran pertama dan kedua yang berhasil disusun Ibay.
“Aku didesak oleh teman-teman baruku itu, tiba-tiba muncullah kakak kelas yang lewat depan kelasku. Sebutlah namanya Agai. Tak semudah membalikkan telapak tangan untuk menyembunyikan fakta dari masa. Itulah yang kualami, aku berharap suatu saat aku bisa mengungkapkannya, hanya sekedar mengungkapkan. Karena apa? ….. itu lembaran ketiga yang berhasil disusun Ibay, jengkel juga masih ada beberapa potongan yang belum ditemukannya sehingga lembaran itu belum sempurna apa isi lengkapnya.
Buku novel bisa kamu dapatkan di marketplace seperti tokopedia, shopie dan di web penerbit deepublish.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wujud Tanpa Suara

Karam Dalam Badai