Masjid Dari Surga



Buku novel karya Abdi Regar Sarianto Tamegawa dengan judul Masjid Dari Surga. Buku ini merupakan antologi yang berhasil dibukukan dengan harapan mampu menjadi sarana dakwah menebar kebaikan kepada para pembacanya.
Pengantar Penulis
Buku ini berisi empat belas cerpen gabungan dari dua orang penulis dengan latar yang variatif. Namun, pada cerpen akhir lebih banyak menceritakan kehidupan anak sekolah. Sebab buku ini memang disasarkan ke pemuda-pemuda meskipun tidak dibatasi untuk kalangan-kalangan tertentu.
Penulis menyadari bahwa di era digital, minat baca orang-orang terhadap buku semakin menurun sebab hampir semua bacaan bisa diakses di dunia maya. Namun, hal ini malah menjadi tantangan tersendiri bagi penulis sehingga cerita-cerita yang tertuang di dalam buku ini harus bisa lebih menarik. Oleh sebab itu, penulis menggunakan bahasa yang cukup sederhana dengan mencoba mengulas cerita yang unik dan menginspirasi.
Harapan penulis, semoga buku ini bermanfaat bagi semua pembaca meskipun hanya sekadar berupa dorongan semangat dan inspirasi untuk berkarya di kehidupan nyata. Akhirnya, penulis menyadari banyak kekurangan di dalam buku ini, mohon maaf atas segala kekhilafan yang ada.
Cuplikan Cerita
Kau pernah sholat di sebuah masjid yang daun pintunya telah rusak? Jendela-jendelanya penuh debu dan keramik yang pecah dan retak? Ah, mungkin saja kau membayangkan masjid seperti yang aku bilang tadi, barangkali berada di pemukiman orang miskin? Salah. Salah besar. Sebab masjid itu berdiri tegak di sekitar pemukiman rumah-rumah besar dan berpagar besi tinggi-tinggi. Masjid itu kecil saja memang, mungkin hanya mampu menampung 100 orang. Tapi masjid sekecil itu pun tak terawat. Apalagi jika masjid itu besar dan mampu menampung 1000 orang. Entah jadi apa bangunan sebesar itu nantinya?
Teras masjid itu cukup luas. Sering dipakai untuk kegiatan mengaji pada sore hari. Lumayan ramai jika sore tiba. Aku dan Raja yang mengajar mengaji bakda shalat Ashar. Gratis. Padahal apalah payahnya kalau limapuluh ribu saja diberikan kepada kami setiap bulan. Bukan bukan mengharapkan. Tapi di manalah letak kerugiannya jika anak-anak pejabat, pengusaha dan dosen itu menitipkan beberapa lembar rupiah, tapi begitulah, guru mengaji selalu dianggap remeh dan dibayar murah, eh, malah sering tak dibayar. Giliran kursus menari, piano, menyanyi, bahasa asing dan entah apalagi sering kali dibayar sampai bisa memberi makan sepuluh orang anak yatim piatu yang tinggal di jalanan.
Di halaman masjid tumbuh sebatang pohon trembesi mati. Entah kenapa tidak dipotong. Barangkali, masih ada semburat harapan di sana, bila suatu hari nanti, pohon itu berdaun kembali. Alangkah teduhnya jika pohon itu berdaun. Pasti akan banyak orang yang senang ke masjid sekadar berteduh dan duduk-duduk di bawahnya. Kata kakekku, dulu masjid ini adalah masjid paling bagus di daerah ini. Orang-orang ramai sholat di sini. Pohon trembesi yang masih berdaun lebat seolah menjadi payung bagi masjid. Tapi sejak pohon trembesi yang berusia ratusan tahun itu mati. Daun-daunya tak tumbuh lagi. Pelan-pelan yang sholat di masjid inipun sepi. Mungkin sudah pada mati.
Masih cerita kakekku, jika dulu di daerah ini tak ada bangunan-bangunan yang tinggi-tinggi. Semua rumah sama rata; terbuat dari papan dan berdempet-dempet. Bangunannya juga kecil-kecil. Di gang ini bahkan ramai anak-anak bermain siang, sore dan malam. Tak kalah serunya. Jika waktu shalat tiba, anak-anak ramai di masjid ikut sembahyang.
Si Rajalah yang mengurusi masjid ini. Ia anak perantauan yang telah tamat dari pesantren, kuliah di kota dan tinggal di masjid ini. Ia tak pernah mengharapkan ada orang yang akan memberikan sumbangan atau apalah kepadanya. Sebab bisa tinggal menumpang gratis saja sudah lumayanlah untuk mengirit biaya kuliah. Tapi sering ia mengeluhkan, tentang jamaah shalat Jum’at yang tak pernah ramai. Hanya bekisar 40 orang. Sebagai penduduk asli daerah ini, aku merasa harus bertanggung jawab dengan kemakmuran masjid. Pun mendiang ayahku, kakekku adalah pengurus masjid ini dulunya.
“Yang pentingkan sudah cukup untuk syarat didirikannya sholat Jum’at, Ja! aku menyemangatinya.
“Bagaimana kalau kita buat pengajian seminggu sekali di sini. Mana tahu banyak yang berminat?” ia mengusulkan sebuah ide yang juga sudah dari lama aku pikirkan.
“Kita pikirkan lagi nanti, ya. Lagipula saya bingung mencari dana untuk transportasi gurunya? Sebab sudah lama sekali kotak infak kita kosong melompong tak terisi. Aku mendengus. Menarik napas.
“Sudah setahun belakangan ini. Listrik tidak mampu kita bayarkan. Makanya terpaksa lampu minyak yang kita nyalakan.” Sambungku lagi.
Raja menarik napas panjang.
Bacara selengkapnya di buku novel terbitan deepublish.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wujud Tanpa Suara

Karam Dalam Badai