Pelangi Di Tana Matahari Allo



BukuNovel | buku novel karya lisnayati Bottong berjudul pelangi di tana matahari Allo menceritakan sebuah cerita yang penuh warna tentang Toraja. Di tempat ini menggambarkan Toraja sebagai tempat yang penuh keindahan, keunikan dengan cerita serta perenungan.
Pelanggi di tana matahari ini secara alur cerita dalam buku ini menarik, mengelitik dan lucu. Generasi berdarah Toraja sangat perlu untuk mengenal/mengetahui budaya sendiri dan seluruh tetek bengek di dalamnya. Terkadang terdapat penambahan pada sebuah acara hal ini tentu sah-sah saja asalkan positif dan tidak menyeleweng dari tujuan sebenarnya.
Tradisi tidak selamanya akan ada sebab generasi akan selalu berganti dan jaman pun akan berganti sesuai dengan perkembangannya. Melestarikan budaya tentu diperlukan pemahaman sehingga dengan begitu dapat mengangkat, memperkenalkan budaya tersebut dimata dunia.
Sekilas Pandang
Secara garis besar, buku ini menceritakan tentang perjalanan ke tana matari Allo. di Bab kedua, penulis menceritakan tentang matahari di bukit sarira. Dalam ceritanya di sampaikan begitu menarik. Setelah perjalanan bab 2, pembaca akan di ajak ke bab selanjutnya, yaitu ke kisah pinang di belah delapan, apa dan bagaimana ceritanya? Bisa dibaca langsung.
Setelah di bawah masuk menyelami lebih dalam, pembaca akan diajak ke bab selanjutnya. Dibab lima, penulis menceritakan tentang kekuatan sebuah tongkonan. Kemudian penulis juga mengangkat judul ‘hembusan sausan sibarrung. Membahas bab apa sih, bisa dibaca langsung selengkapnya.
Sinopsi buku novel
Februari datang dan melepaskan serangkaian warna-warni kegembiraan di wajah salahsatu mahasiswi yang telah meyelesaikan studi akhirnya. Kinawa, demikian nama gadis tersebut. Mahasiswi lulusan bidang kepariwisataan ini memiliki keinginan yang semua orang impikan yaitu ke suatu tempat yang memiliki empat musim. Ia memiliki kepribadian yang hangat, mudah tersenyum serta sulit untuk menyerah sebelum berusaha. Dirinya berkeyakinan bahwa jika hati kita menginginkan sesuatu maka tangan kita akan mencapainya. Sebaliknya demikian, jika hati kita enggan maka tangan kitapun tak akan mampu meraihnya itulah sosok Benedicta lai’ Kinawa yang akrab di panggil Kinawa.
Kinawa lahir dan tumbuh besar di sebuah kota kecil di Sulawesi tenggara. Sebagai anak bungsu dari tiga bersaudara dalam keluarga petani biasa yang demokratis. Kedua orang tuanya berasal dari sebuah perkampungan yang sama di Tana-Toraja.
Acara wisuda yang berlangsung lama begitu melelahkan tetapi tidak dengan hatinya yang gembira. Entah mengapa suasana sore ini begitu ceria. Ia pun berencana untuk membuat secangkir kopi dan fried banana kesukaannya. Lalu, Ia pun duduk malas di serambi depan rumahnya seraya mendengarkan dentingan piano instrumental Fur elise yang berasal dari handphonenya. Sesekali, terdengar jeritan burung-burung pipit yang sedang bermain petak umpet di atas dahan pohon mangga manalagi yang berbuah lebat, kupu-kupu berwarna-warni saling berkejaran di antara rimbunan bunga-bunga bougenville dan melati-melati yang tak mau kalah menebarkan pesonanya.
Menenangkan pikiran sejenak untuk mendengarkan alam bernyanyi, terlepas dari rutinitas selama ini dengan mempergunakan kesempatan yang ada seperti kata seorang pujangga bahwa segala sesuatu ada masanya untuk apapun di bawah langit ada waktunya, ada waktu untuk susah dan ada waktu untuk senang.
 “Heiii... pengkhayal!” seru Alang sahabat Kinawa yang bernama lengkap Alang Sorume, gadis peranakkan Toraja dan Tolaki ( sebuah suku asli di provinsi Kendari, Sultra) yang datang menepuk pundaknya sehingga membuatnya terkejut dan nyaris terjatuh sukses dari kursinya. Alang hanya tertawa terpingkal-pingkal melihat ekspresi wajah sahabatnya itu.
“Congratulation yah, sudah sarjana kau, by the way…apa planningmu sekarang ?” Katanya tanpa perasaan bersalah seraya mengambil sepotong pisang goreng.
“Orang ini, minta maaf kek, makan lagi pisang gorengku.” Kata Kinawa ketus lalu lanjutnya “Ada deh, tapi masih di pikirkan.” Ia mengetuk dahinya.
“Cieee…pakai rahasia-rahasian segala, katakan saja siapa tahu saya bisa bantu.” Kata Alang menawarkan.
“Serius kau bisa bantu?” Tanya Kinawa dengan tatapan serius ke Alang
“Ya, absolutely…what can I do for you?” Alang balik bertanya
“Wah, kebetulan nih saya berencana mau pulang kampung liburan tapi kendala diongkos kalau kau bisa bantu seperti katamu tadi pinjamin saya uang sekitar sejuta,gimana?” kata Kinawa sambil tersenyum manis
“Ooo…begitu. Bagaimana yah, kau kan tahu kalau saya juga masih dalam pencarian jati diri bahkan sampai detik ini juga masih menunggu bantuan datang kalau-kalau ada yang memiliki berkat jadi, sebagai sahabat saya pikir bantuan bisa dalam bentuk yang lain, maybe…” Kata Alang mencari alasan lalu duduk di kursi sebelahnya.
“Uh, kau ini pandai bersilat lidah pakai alasan lagi panjang lebar, saya sudah mengerti dari dulu bahkan sangat mengerti dirimu.” Jawab Kinawa sembari meminum kopinya
“Oo…syukurlah kalau begitu.” Alang mengelus dadanya lalu katanya lagi. “Menurutku rencanamu pulang kampung itu adalah ide yang baik. Kira-kira berapa lama kau akan berlibur di sana?”
“Yah, sekitar sebulan atau dua bulan tergantung suasana hati, saya punya rencana untuk ingin lebih mengenal dan mengetahui tradisi di sana utamanya upacara Rambu Solo’ alias upacara kematiannya yang kata orang aneh-aneh begitu.”Kata Kinawa
 “Good…itu pikiran yang bagus sekali apalagi kau orang Toraja perlu memang mengenal adat sendiri biar pun ada di perantauan dan…” Kata Alang tak jadi melanjutkan kalimatnya.
 “Iiih…orang toraja yang tepat suku toraja dan saya orang Indonesia. Akan tetapi, bukan hanya saya saja dirimu kan juga separuh berdarah Toraja jadi kau seharusnya ikut bersamaku apalagi kau belum pernah ke sana, kan.” Kinawa menimpali
“Iya, benar juga hampir lupa kalau saya ini blasteran hehehe…” Alang terkekeh sendiri lalu melanjutkan kalimatnya “By the way, kata tetanggaku yang dua hari lalu pulang kampung karena neneknya akan di pestakan kalau di Toraja sekarang itu sedang high season pesta orang mati, gitu!”
“Lang, upacara kematian mungkin paling tepat bukan pesta kematian. Merinding bulu-buluku kau bilang pesta orang mati agak seram-seram terdengar di telinga sampai menusuk di hati masa kematian di pestakan!” kata Kinawa bergidik
“Lah, Itu juga saya heran tapi mereka bilang pesta kematian di kampungnya bukan upacara namun apapun itu intinya tetap sama kok yakni pemakaman secara adat.” Balas Alang memutar-mutar lehernya.
“Yup, benar sekali! Balas Kinawa mengacungkan jempol membenarkan lalu melanjutkan kalimatnya “ sesungguhnya, saya memiliki angan-angan untuk pergi ke negeri kangguru jika selesai studi akan tetapi rupanya hanya sampai dalam negeri saja untuk….”
Ketika mimpimu yang begitu indah tak pernah terwujud…ya, sudahlah. Saat kau berlari mengejar anganmu dan tak pernah sampai… ya, sudahlah, hmmm…” Alang memutus kalimat Kinawa dengan menyanyikan lirik lagu dari Bondan Prakoso.
“Sabar, bukankah ada pepatah yang berbunyi ‘Tak ada rotan akar pun jadi’ kalau ke negeri kangguru tak dapat ke negeri kerbau pun jadi.” Kata Alang memberi semangat sambil menepuk-nepuk pundak temannya.
Terdengar suara adzan magrib berkumandang dari sebuah mesjid di seberang jalan tanda bahwa perbincangan mereka harus terhenti sebab hari telah senja. Keduanya lalu beranjak dari kursi. Alang melangkah keluar menuju rumahnya sampai saat Kinawa berteriak. “ Eits Lang, kau hendak ke mana?”
“Ke sarangku toh, kenapa mau ikut?” Balas Alang dengan kalimat serampangan.
Kinawa hanya terkekeh-kekeh kecil melangkah masuk ke dalam rumah bersama matahari yang juga telah tenggelam di ufuk barat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wujud Tanpa Suara

Karam Dalam Badai